Susuri Sudut Kota dengan Laju “Low Rider”
SEJUMLAH sepeda berbentuk unik berjejer
di pelataran aspal. Keunikan itu terlihat dari bentuk dan struktur
frame, setang, sandaran, hingga joknya. Tak pelak lagi, sepeda bukan
sekadar alat olah raga atau alat transportasi semata, namun bisa juga
untuk bergaya.
Itulah pemandangan yang terlihat di
sekitar Balai Kota Bandung setiap Minggu pagi. Sekelompok anak muda yang
meminati sepeda jenis low rider biasa berkumpul di sana, untuk
bersilaturahmi, sharing modifikasi sepeda, atau sekadar mengayuh
sepedanya mengitari Balai Kota. Kenal lebih dekat, yuk!
Dituturkan salah seorang pegiatnya, Sapto
Aji yang akrab disapa Aji, mereka yang kerap berkumpul tersebut berasal
dari berbagai komunitas low rider di Bandung, Lembang, hingga Banjaran.
Tercatat ada Slow Rider, Pedal Power, Luxurious, Rollerz, Highlander,
dsb. Tongkrongan di Balai Kota itu bermula dari berdirinya komunitas
Cruisers Van Java yang diinisiasi antara lain oleh Ade Dewanto dan
Rinaldy, sekitar akhir tahun 2006. Cruisers Van Java yang kemudian
berganti nama menjadi Flower City Rider itu sempat meraup cukup banyak
peminat low rider di Bandung hingga belakangan kegiatan organisasinya
meredup sebab para pegiatnya diterpa beragam kesibukan.
“Sekarang mau diaktifin lagi, soalnya
sayang kan udah ada tempatnya. Untuk sementara belum pakai nama khusus
lagi, jadinya siapa aja dan dari komunitas mana aja bisa gabung karena
sifatnya cair,” kata Aji ketika ditemui Kampus, Minggu (24/8).
Istilah low rider sendiri muncul sebab
pengendara sepeda ini duduk di sadel yang lebih rendah atau ceper
dibandingkan dengan sepeda lain. Omong-omong tentang ciri khas sepeda
low rider, biasanya terdiri atas fork depan springer model bengkok (bent
springer fork), setang model menggantung (apehanger handlebar), rangka
model pelangi (rainbow bent frame), jok pisang (banana seat), dan besi
sandaran jok (sissy bar), sementara yang lainnya bisa dikostumisasi
lagi.
Dengan tujuan bersenang-senang dan
semakin memopulerkan keberadaan sepeda low rider, Aji kerap menggelar
jalan-jalan keliling kota pada malam hari (night riding) setiap hari
Kamis, mulai dari Gedung Merdeka hingga sekitar Jalan Dago. “Tujuannya
untuk mengenalkan sepeda low rider pada masyarakat, sekalian wisata
kuliner malam hari,” kata Aji sambil terkekeh.
Joey dari Luxurious, menceritakan
ketertarikannya pada sepeda low rider dimulai sejak tahun 1994, berkat
video-video klip yang memperlihatkan betapa kerennya mobil dan sepeda
low rider. “Kalau mobil kan enggak kuat membiayainya, makanya pilih
sepeda aja,” kata Joey seraya tertawa. Latar belakang menggemari sepeda
low rider memang bermacam-macam. Contohnya Aji yang berasal dari R2
Racing Team, komunitas penggemar motor dan mobil balap. “Memang dasarnya
senang modifikasi. Habis mobil, motor, ya terus sepeda deh,” kata Aji.
Para pesepeda low rider memang tidak
menganggap sepedanya sekadar sebagai alat transportasi, namun juga
sebuah karya seni. “Kita bisa mengekspresikan diri melalui tiap detail
modifikasi, pokoknya serulah,” ucap Aji yang juga kerap ikut lomba
kreasi sepeda low rider. Menurut dia, keikutsertaan dalam kontes-kontes
tersebut merangsang ia dan kawan-kawannya berpikir keras membuat kreasi
terbaru.
Salah satu sepeda low rider milik Aji
yang berjenis chopper, dipasangi roda berukuran sangat besar yang biasa
digunakan mobil arena balap hingga membuat bentuknya menjadi unik. Aji
sendiri memiliki belasan sepeda low rider dengan biaya modifikasi mulai
dari Rp 2 juta hingga puluhan juta rupiah. Modifikasi itu tak jarang
butuh merogoh kocek dalam-dalam, namun itu bukan masalah dibandingkan
dengan kesenangan proses merakit sepeda idaman.
“Modifikasinya memang bisa macam-macam.
Ada yang menghias bondo (tangki)-nya pakai airbrush, setangnya dibuat
melingkar (twist), bahkan ada yang jari-jarinya dilapisi emas hingga 18
karat (gold plate)! Tapi bisa juga dibuat lebih murah dengan merakit
sendiri,” ujar Joey.
Kegemaran sepeda gaya ini ternyata
dijadikan pula sebagai salah satu kampanye pengurangan jumlah kendaraan
bermotor. “Saya ada kendaraan lain, tapi kadang lebih enak pakai sepeda.
Hemat energi dan ramah lingkungan,” kata Joey. “Ke depannya semoga
komunitas low rider bisa lebih solid menjalin kebersamaan dan ikut
mempromosikan gaya hidup sebagai environmentalist,” ujar Aji menuturkan
harapannya. So, let’s roll the bike and rock the street! ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar